Lanjut ke konten

WAPSA, belajar sambil mempromosikan budaya Papua

Foto : WAPSA Perform dalam Gala Dinner Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke 74 dan 70th Anniversary Indonesia- Australia of Diplomatic Relationship.

Perth (KPN)-(01/07/2020) Belajar di luar negeri merupakan kebanggan bagi anak anak papua sekaligus menjadi tantangan yang menarik bagi pelajar di Papua. Saat ini ada cukup banyak pelajar Papua yang belajar di luar negeri salah satunya di Australia Barat (Western Australia). Di sini, banyak pelajar asal papua tergabung dalam sebuah wadah pelajar bernama WAPSA (Western Australia Papuan Student Association). Wadah ini terdiri dari sejumlah mahasiswa dari College yaitu canning college dan Murdoch Institute Technology dan Universitas seperti University of Western Australia, Curtin University dan Murdoch University yang menempuh study mulai dari setingkat SMA sampai S3. Wadah yang baru di bentuk pada bulan Mei 2019 ini membawa slogan “Beyond educational Experiences” atau lebih dari pengalaman akademik. Kegiatan yang baru dilakukan adalah membentuk tim tari dan workshop yang baru-baru ini di lakukan.

Tim tari pertama yang di bentuk adalah tim tari Yosim pancar atau YOSPAN. Berbekal pengalaman yang ada, sumber daya yang terbatas, tim ini sudah bisa melakukan performance di beberapa kegiatan penting di Perth, Australia Barat.

Pertama tampil pada Spring Feast at The University of Western Australia, kedua tampil pada Gala Dinner untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI sekaligus memperingati 70 tahun Hubungan Diplomasi Indonesia dan Australia dan Festival Indonesia yang merupakan festival Indonesia tahunan terbesar di Perth. Untuk dapat tampil pada kegiatan-kegiatan tersebut, tentu tidak mudah karena harus menyesuaikan jadwal kuliah yang berbeda-beda, apalagi akhir semester adalah waktu paling sibuk bagi para mahasiswa.

Foto : Festival Indonesia, Perth 27 Oktober 2019

Akhir semester selalu di sertai dengan banyaknya tugas tugas besar, presentasi, dan kerja kelompok yang membutuhkan komitmen dan manajemen waktu. Meskipun demikian, semua anggota mampu membagi waktu dengan baik sehingga dapat memenuhi undangan pada setiap penampilan. Selain itu, WAPSA juga telah mengadakan sebuah workshop tentang menulis artikel, yang mana nara sumbernya adalah dari salah satu pelajar Papua yang menempuh pendidikan pada tingkat PhD (S3) di Australia Barat. Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang cara menulis artkel, pentingnya menulis artikel, serta memberikan beberapa contoh dari para penullis artikel asal papua yang tulisannya sudah di publikasikan.

Jika dilihat jadwal latihan dan kuliah cukup padat, namun para pelajar di Australia Barat tetap menjalankan tugas utama yaitu belajar di kampus masing-masing. 

“kami masih akan menguasahakan untuk melakukan performance yang lebih baik lagi kedepan, karena selain menjadi ekstrakurikuler, ini juga dapat menjadi bagian dari mempromosikan kebudayaan Papua ke Mancanegara. Karena yang menyaksikan penampilan YOSPAN dari WAPSA bukan hanya berasal dari Australia, tetapi juga berasal dari negara negara lain” – Ketua WAPSA (Piter Ginuny/Piche).

Melalui diskusi yang dilakukan oleh WAPSA sendiri, kedepan di sela sela kesibukan WAPSA berharap bahwa dapat melakukan kegiatan kegiatan produktif lainnya yang dapat mengembangkan diri sekaligus menjadi waktu dimana para pelajar asal papua tidak hanya datang dan belajar, tetapi dapat mengambil banyak pengalaman dari berbagai kegiatan ini. Selain itu, melalui wadah ini, kami juga mengharapkan bahwa ada networking yang terbangun antar sesama pelajar, dan organisasi lain yang ada di Australia bisa menambah pembelajaran yang lebih ketika pulang nanti ke Papua.

Foto : WAPSA Perform dalam Gala Dinner Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke 74 dan 70th Anniversary Indonesia- Australia of Diplomatic Relationship.

Di Tahun 2020, Beberapa dari anggota WAPSA sudah menyelesaikan pendidikannya dan sudah kembali ke Indonesia. Angggota yang masih ada di Perth saat ini mengalami tantangan baru yaitu Pandemi Covid-19. Tantangan yang di alami adalah semua kelas beralih kepada online learning dan peraturan yang semakin ketat mengikuti protokol kesehatan. Di kampus masing masing, seluruh pelajar di haruskan mengikuti setiap online kelas disetiap lecture. Selain itu, kemandirian dalam proses belajar menjadi kunci untuk melewati satu semester. Meskipun banyak sekali tantangan seperti lingkungan yang berubah, tidak ada interaksi fisik, lingkungan belajar yang kecil, tidak mematahkan semangat para pelajar papua untuk menyelesaikan semua tugas dalam perkuliahan. Namun, pihak kampus dan pemerintah Australia memberikan dukungan berupa paket bantuan kepada pelajar, contohnya di Murdoch University, setiap student di berikan voucher belanja setiap dua minggu, pendanaan penggunaan aplikasi dan teknologi, serta peminjaman perangkat laptop bagi pelajar yang mebutuhkan laptop. Paket bantuan lain juga di terima di masing masing universitas di Australia Barat. Di tambah pemerintah Indonesia melalui KJRI dan Komunitas Masyarakat Indonesia di Australia Barat juga memberikan bantuan sembako secara berkala kepada pelajar Papua di Australia Barat. Kondisi COVID di Perth sudah semakin membaik, sehingga masyarakat sudah bisa melakukan aktifitas seperti biasa sejak awal bulan Juni dengan tahapan tahapan seperti naiknya jumlah kerumunan dai 2, 10, 20, hingga 100 orang dengan tetap menjaga jarak. (Release WAPSA)

%d blogger menyukai ini: