20170504_100501
Suasana sosialisasi penyebaran informasi produk air minum isi ulang unit layanan pengaduan konsumen BP POM Jayapura (ft/obi)

Jayapura (KPN)-Menjamurnya depot air kemasan isi ulang (galon) di Kota Jayapura, khususnya di Kelurahan Hedam,  membuat institusi yang berkewajiban dalam melakukanpengawasan harus intens dalam melakukan pembinaan.

Karena itu, bertempat di aula Kelurahan Hedam, Kamis (4/5/2017) pagi,  Kelurahan Hedam bekerjasama dengan Balai Besar POM Jayapura, serta Disperindagkop Kota Jayapura menggelar sosialisasi penyebaran informasi produk air minum isi ulang di kelurahan tersebut.

Salah satu peserta budi pulalo berharap kepada BP POM Jayapura agar lebih memperketat pengawasan terhadap para pelaku usaha depot  air isi ulang,karena berbicara masalah air berhubungan erat dengan kesehatan dan merupakan kebutuhan utama manusia ,sehingga dapat memperhatikan kwalitas air yang di jual kepada masyarakat (konsumen) dan bukan hanya mencari keuntungan.

Sementara itu Kepala Bidang Pengujian Teranokoko (terapeutik, narkotik-psikotropik, obat tradisional, kosmetik dan komplemen makanan) Balai Besar POM  Jayapura, Dra Diah Ariani Yuningsih, Apt mengatakan, tujuan sosialisasi ini untuk memberikan pemahaman kepada para pelaku usaha depot air isi ulang, sehingga timbul kesadaran bahwa mereka punya kewajiban terhadap konsumen untuk menjamin kualitas produk (air) yang bermutu, dengan harapan masyarakat akan mendapatkan air minum yang bersih dan berkualitas.

“Kalau alasan kami memilih Kelurahan Hedam karena pihak kelurahan sangat aware dengan kondisi usaha air minum isi ulang yang ada di wilayahnya, yang saat ini sudah cukup banyak dan tidak beraturan. Jadi, sosialisasi kami laksanakan dengan target pelaku usaha air isi ulang dan masyarakat Hedam,” ujar Diah

Menurut Diah, soal pengawasan sebenarnya bukan  menjadi tanggungjawab Balai POM saja, melainkan ada sejumlah dinas terkait seperti Dinas Perindag dan Dinas Kesehatan setempat.

“Kami disini sebagai pemilik anggaran mengakomodir keinginan Pak Lurah Hedam, sementara Dinas Kesehatan memiliki kewenangan untuk mengawasi dan menutup (menyegel) pelaku usaha. Jadi kita harus mengajak mereka, sedangkan Disperindagkop dalam hal ini soal perizinan terpadu satu pintu di BPPTSP,” terangnya.

Dari sempel  yang dilakukan Balai POM Jayapura terhadap depot air isi ulang, di mana pihaknya sempat menemukan air isi ulang yang mengandung mikroba. Lantas, saat sosialisasi, Diah mencoba membuat kuisioner kepada pelaku usaha.

“Jadi kuisioner ini atas inisiatif saya sendiri. Saya cuman ingin tahu seberapa pengetahuan pelaku usaha dan kesadaran mereka. Nah, dari kuisioner itu ternyata masih ada pelaku usaha yang belum sadar bahwa uji bakteriologi coliform itu hanya dilakukan saat mengurusi izin pertama kali. Padahal seharusnya itu dilakukan tiga bulan sekali,”akunya hal tersebut menunjukan pemahaman pelaku usaha terhadap kualitas air masih rendah.

“Makanya sosialisasi seperti ini sangat penting untuk membuka pemahaman dan kesadaran pelaku usaha,” sambungnya lagi.(so)