Danau Sentani tempo Dulu (Sumber: Old Papoea Photos)

Jauh sebelum ada Kapal Matoa yang berlayar mengarungi Danau Sentani melayani Rute Kampung Yoka-Borowai di era 70-an, ternyata sebelumnya sudah ada Kapal di era 60-an yaitu Kapal De Simavi atau dikenal masyarakat kala itu dengan sebutan Simavi. Bahkan ada kisah tentang perpisahan Kapal Simavi yang hendak lepas tali dari dermaga yang diabadikan dalam sebuah lagu berbahasa Sentani. Lagu tersebut pernah dinyanyikan oleh Grup Legendaris Mambesak.

“Simavi” adalah singkatan dari Steun in Medische Aangelegenheden Voor Inheemschen yaitu sebuah lembaga pemasok alat kesehatan dari Negeri Belanda. Jadi Kapal De Semavi sebenarnya adalah Kapal pemasok alat kesehatan ke kampong-kampung di sekitar Danau Sentani, sekaligus melayani masyarakat di sekitar Danau Sentani Permai di kaki Gunung Siklop, Kabupaten Jayapura.
Ukuran Kapal De Semavi untuk standar saat itu, dianggap sudah cukup megah dan menjadi kenangan tersendiri bagi masyarakat Sentani. Layaknya Pesawat Catalina (Pesawat Amphibi) yang diabadikan dalam sebuah lagu yosim “Catalina terbang melayang sampe ke Pulau Numfor”.

Selain Pesawat Catalina, ada pula Perahu Motor Sirison yang melayani rute Pulau-pulau di Pantai Timur Sarmi. Orang-orang di Pulau Yamna tempo dulu membuat lagu tentang Perahu Motor Sirison. “Motor Sirison dari jauh kusangka Kapal Terbang (Pesawat Amphibi), nona bertanya..sinyo saya ada di Motor Sirison”, sepenggal lirik lagu Motor Sirison. Alasan masyarakat sarmi menyebutnya mirip pesawat amphibi karena, perahu motor adalah perahu bercadik (Seman), yang terdapat disisi kiri dan kanan perahu, sehingga terlihat seperti sayap pesawat terbang.
Hal tersebut tidak mengherankan, mengingat daerah Sarmi dahulu merupakan wilayah pertempuran Perang Pasifik, sehingga Pesawat jenis amphibi sudah akrab dimata masyarakat.

Di era tahun 90-an, masyarakat Papua juga mengenal lagu tentang Kapal Penumpang atau yang sering disebut Kapal Putih “KM Umsini”, dan masih ada beberapa lagu lainnya.

Kisah tentang lagu-lagu diatas menunjukkan bahwa Masyarakat Papua sering terinspirasi untuk membuat lagu dari momen-momen yang berkesan disekitar mereka, bahkan alat transportasi sekalipun. (Sumber: Pustaka Anak Papua)