Lanjut ke konten

SELAMAT JALAN GURU PAPUA



Oleh : Festus Simbiak

Saudaraku Theodorus Purba.., Dosen Bahasa Inggris, Universitas Cencerawasih
Engkau tinggalkan sanak-saudara di kaki gunung Sinabung, engkau tinggalkan kekayaanmu di kampung halaman, merantau jauh ke Timur di suatu tempat yang penuh misteri hanya utk mengejar sebuah cita-cita.

Engkau hanya tahu nama Irian Barat, tapi engkau tidak tahu manusianya dan alamnya, tapi sebuah cita-cita mendorong semangatmu utk tetap melangkah menuju Irian Barat.

Engkau hadir di Irian Barat, bukan karena mencari nafkah, tapi hanya mengajar sebuah cita-cita. Engkau tidak tahu di mana akan mengabdi, namun engkau terus melangkah menuju Irian Barat.

Jarak dan tempat bukan halangan, karena dalam bathinmu engkau hanya mengejar sebuah cita-cita. Langkahmu pasti walau tempat tujuan masih penuh misteri. Engkau tidak mempermasalahkan tempat tugas. Di pedalaman atau di kota engkau tak perduli, krn hanya sebuah cita-cita.

Engkau ikhlas diterbangkan menuju ke pedalaman. Di sana engkau terkurung bertahun-tahun. Engkau hanya berhadapan dengan penduduk yang setiap hari memagang parang dan tombak. Engkau tidak takut dan kecut, karena engkau hadir utk mereka. Engkau bercita-cita mendidik mereka di pedalaman Irian Barat.

Engkau tinggalkan banyak tunas yang telah tumbuh, bahkan telah berbuah di mana2 di pedalaman Irian Jaya. Kini manusia2 yang engkau bina pada waktu itu sdh menjadi SDM yang bermanfaat di kampungnya.

Waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta engkau gunakan utk berbakti bagi anak keriting di pedalaman Irian Barat. Engkau bercita-cita menyiapkan mereka seperti dirimu utk pedalaman Papua, supaya mereka kelak berbakti bagi bangsa dan negara. Sebagian usiamu engkau habiskan utk menyiapkan anak Papua menggantikan dirimu.

Hasil didikanmu sudah beribu kini tersebar di mana2. Hari ini mereka berduka, karena kepergianmu. Mereka hari ini menangis terisak bukan krn tidak hadir dalam pemakamanmu, tapi karena perasaan mereka hancur, krn jasadmu tidak bisa diantar oleh khalayak, sebagai tanda hormat mereka pada pengabdianmu.

Hari ini engkau pergi diam-diam, sepi tak ada suara nyanyian anak-anakmu di Papua, seperti tak punya keluarga, teman dan saudara utk mengantar ke tempat peristirahatanmu.

Engkau bukan tidak mau diantar, tetapi demikian sikon yang menjadi kendala. Kami sedih krn tidak bisa mengantar kepergianmu sampai ke pintu tujuanmu.

Kami berterima kasih pak Purba, krn cita-cita yang mengantar dirimu ke Irian Barat sudah engkau penuhi. Selamat jalan guru kami, guru yang telah mengabdikan diri tanpa menuntut. Guru yang penuh cinta kasih, yang tidak pernah marah, penuh dedikasi. Guru yang selalu tersenyum walau kami berbuat salah.

Selamat jalan sahabat, teman dan orangtua kami. Selamat jalan guru kami. Engkau pergi meninggalkan kami, tapi namamu sudah terpatri dalam sanubari kami anak-anak Papua.

%d blogger menyukai ini: