Charles Toto saat menjelaskan kepada para Peserta Indonesia-Pasific Parliamentary Partnership tentang kuliner yang disajikan. (Foto:Papua Jungle Chef)

Jayapura (KPN)_Salah satu artikel Sekretariat Kabinet RI, menyebutkan bahwa Diplomasi Gastronomi menjadi alat yang paling populer dalam diplomasi publik. Dengan berbekal pisau, garpu dan bendera serta menggunakan restoran untuk mempromosikan kebudayaan dan makanan serta berbagi keberagaman yang unik setiap makanan berbagai negara. Gastro Diplomasi kemudian menjadi alat diplomasi bagi sebuah negara untuk mencapai tujuan politis dan promosi negara di dunia internasional.
Di era tahun 2000, beberapa negara sudah melakukan gastro diplomacy yang kemudian menjadi inisiatif awal diplomasi kuliner yang diluncurkan Pemerintah Thailand pada tahun 2002 untuk mendorong lebih banyak orang di seluruh dunia makan masakan Thailand.
Upaya diplomasi yang sama juga dilakukan Pemerintah Indonesia, melalui Pertemuan IPPP (Indonesia-Pasific Parliamentary Partnership) yang merupakan pertemuan Para Ketua DPR seluruh negara di Pasifik. Dalam Pertemuan yang diadakan di Hotel Grand Hyatt Jakarta tanggal 23 july 2018, Papua Jungle Chef diundang oleh DPR RI untuk memasak dalam pertemuan tersebut.

Suasana Pertemuan IPPP

Jungle Chef asal Papua, Charles Toto saat diwawancarai (08/09/2018) menjelaskan bahwa melalui kesempatan undangan masak tersebut, ia dan beberapa rekan kemudian berkesempatan untuk mempromosikan salah satu Gastronomi Tradisional Papua yakni Bakar Batu.
“Kami diundang untuk presentasi itu, jadi situ kami berbagi pengalaman dengan teman-teman di hotel Bintang Lima Grand Hyaat bahwa ini metode masak orang Papua yang tradisional yang selama ini di luar kami bawa ke dalam ruangan,” ujar Charles Toto.

Papua Jungle Chef tengah mempersiapkan bahan dan bumbu menu bakar batu. (Foto:Papua Jungle Chef)

Papua Jungle Chef menyiapkan bakar batu di dalam ruangan, dengan bentuk yang lebih kecil dan minimalis serta memperhatikan dengan baik segi higienisnya, sehingga bisa masuk dalam standar hotel.
“Itu yang kami presentasi dan mendapat respon positif sekali dari negara-negara di wilayah pasifik. Selama ini mereka cuma tahu bahwa kalau bakar batu pasti diluar ruangan, atau paling yang mereka tahu lebih higienis dan lebih sehat kalau mereka bungkus di aluminium foil lalu dibakar,” terang Charles Toto.

Charles Toto tengah nempersiapkan menu bakar batu (Foto: Papua Jungle Chef)

Lebih lanjut diterangkan Charles bahwa tim Papua Jungle Chef membuat bakar batu di dalam gerabah atau yang akrab disebut orang Papua dengan Sempe dan dalam Bahasa sentani disebut Hele.
“Jadi batunya kami panggang di oven atau di Perapian, batu itu yang kita masukkan kedalam gerabah, sesuai dengan aturan layer per layer, seperti bakar batu biasanya. Keladi dan petatas di bagian bawah, kemudian sayuran, terakhir daging,” kisah Charles.

Papua Jungle Chef saat menyiapkan menu bakar batu. (Foto : Papua Jungle Chef)

Saat Papua Jungle Chef memasak, mereka berceritera tentang filosofi bakar batu kepada para tamu. Mereka juga menjelaskan kepada para tamu, bahwa alasan daging diletakkan paling atas adalah agar juice dari daging akan turun ke sayuran dan umbi-umbian tersebut sehingga akan menambah cita rasa.
Melalui kesempatan memasak dalam event Internasional tersebut, Papua Jungle Chef mempromosikan Kuliner Tradisional Papua, sebagai kuliner tradisional yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat yang terus berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Kuliner bakar batu diharapkan akan semakin dikenal di kalangan negara-negara pasifik. Diharapkan juga dengan penyajian kuliner yang baik dan dinikmati oleh para tamu akan mampu mendukung proses diplomasi antar negara yang menjadi tujuan dari pelaksanaan pertemuan tersebut sesuai dengan misi gastrodiplomacy. (Marj)