Papua Jungle Chef saat mengikuti Sumba Night Silk Road (12 July 2018)

Jayapura (KPN)_Saat membaca Gastronomi Tradisional, mungkin tidak semua dari pembaca paham tentang istilah tersebut. Gastronomi atau tata boga adalah seni atau ilmu tentang makanan yang baik (good eating). Sumber lain juga menyebutkan Gastronomi sebagai studi mengenal hubungan antara budaya dengan makanan sebagai pusatnya, oleh karena itu kemudian dikenal istilah Gastronomi Tradisional yang lebih difokuskan pada pangan lokal yang merupakan tradisi turun temurun di sebuah daerah tertentu.
Seiring meningkatnya kompetisi diantara berbagai tempat tujuan wisata, Gastronomi Tradisional kemudian dilirik sebagai salah satu potensi promosi daerah tujuan wisata. Hal tersebut yang kemudian menginspirasi Charles Toto bersama beberapa rekannya membentuk sebuah Komunitas bernama Papua Jungle Chef.

Aktifitas Komunitas Papua Jungle Chef

Saat diwawancarai (08/09/2018) Charles Toto menjelaskan, aktifitas Jungle Chef sudah mulai sejak tahun 1997 silam saat ia dan beberapa rekan menjadi Tur Guide ke daerah Pedalaman Papua, namun Komunitasnya baru dibentuk tahun 2008.
“Jadi kami mulai banyak kegiatan tur, sekali masak langsung kami melatih anak-anak di kampung setempat. Jadi mereka mengolah bahan lokal, lalu kita masukkan style dari kepentingan tamu asing. Kami kombinasikan bahan lokal dengan continental food, seperti membuat pizza dengan bahan dasar keladi atau petatas dan ikan dan bahan lain tapi dengan toping standar keju tetap, walaupun kontennya lokal tapi rasanya sesuai dengan kebutuhan tamu asing,” kisah Charles Toto.
Selain untuk mempromosikan dan mengembangkan Kuliner dan Pariwisata Papua, dibentuknya Komunitas Papua Jungle Chef juga bertujuan untuk mengembangkan kemampuan anak-anak di setiap ODTW (Obyek dan Daya Tarik Wisata) dalam menjamu para wisatawan serta tentu saja mengajarkan anak-anak tersebut untuk lebih mencintai dan mengenal kembali tradisi kuliner mereka sendiri.
“Ada juga beberapa resep yang mulai dilupakan, seperti Ikan Kuah Hitam dari Sentani, kemudian menu dari Tobati seperti Labu Mentuk. Ini yang perlu digarap dan dipresentasikan lebih baik sehingga masyarakat di luar Papua tahu bahwa seperti inilah Gastronomi Tradisional Papua. Hal tersebut yang kami perjuangkan tentunya dengan dukungan teman-teman Patgom dan HPI,” jelas Charles.

Pengembangan Komunitas Papua Jungle Chef dan pembinaan kaum muda sudah tersebar hampir di seluruh Papua, hanya beberapa daerah yang belum, seperti Fak fak, Timika, Paniai, Dogiyai dan Deiyai.
“Untuk di daerah perkotaan, minat untuk belajar menjadi jungle chef agak kurang tapi untuk di daerah kampung, mungkin karena mereka melihat langsung aktifitasnya seperti di Wamena ada beberapa yang sekarang sudah punya Hotel sendiri dan mereka sudah menjual paket tur, memasak dan untuk kepentingan Hotel Penginapan, seperti satu di Suroba sudah punya satu penginapan,” terang Charles.

Untuk Pelatihan yang diikuti oleh para binaan Papua Jungle Chef, Charles Toto berkisah bahwa mereka mengusahakannya sendiri lewat berbagai Komunitas yang mereka gandeng.
“Kita sendiri yang cari dana, bangun relasi, jadi kita modelnya investasi sahabat kemana-mana, ke teman-teman di Jakarta, kalau ada event di Jakarta saya biasa bawa 2 orang teman lagi. Usai kegiatan tersebut, saya kontak teman-teman di bali, saya titip ke Bali saja supaya mereka belajar disana. Saya bilang sama mereka, kalian belajar bukan untuk cari uang tapi belajar untuk cari ilmu karena uang dengan sendirinya akan ikut kalian kalau kalian sudah professional,” tutur Charles. (Marj)