Jayapura (KPN) – Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Papua menggelar pameran kerajinan tangan perempuan pengintas dengan tujuan, memperkenalkan dan memperomosikan hasil kerajinan tangan perempuan papua, pada masyarakat terutama yang belum tersentuh pasar.
Hasil kerajinan tangan perempuan pengintas ini juga akan dihadirkan pada PON XX tahun 2020 di Papua, sesuai dengan instruksi Gubernur Papua, bahwa hasil kerajinan tangan ini akan dijadikan sebagai ole-ole bagi hampir 7000 orang yang akan datang dari luar Papua untuk mengikuti pelaksanaan PON XX di Papua nantinya.
Pameran ini dibuka oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Papua, Anike Rawar, di halaman kantor Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Papua, Selasa (06/11/2018).

Dalam sambutan Gubernur Papua yang dibacakan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Papua, Anike Rawar mengatakan, Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Republik Indonesia memiliki program prioritas yakni tree”x” dimana program ini untuk mengakhiri permasalahan yang dihadapi oleh kaum perempuan dan anak yakni, akhiri kekerasan perempuan dan anak, mengakhiri perdagangan orang, dan akhiri ketidak adilan akses ekonomi terhadap perempuan,”kata Anike Rawar.

Annike menjelaskan, Program ini dapat membangun kepedulian dan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan perempuan dan anak sebagai visi perlindungan dan anak demi terwujudnya Indonesia yang ramah bagi perempuan dan anak. Guna mewujudkan program tree”x”, fakta lain kaum perempuan mengarah ke putus sekolah, pernikahan di bawah umur, dan di sector informal yaitu, gaji rendah, maka dampak dari kekeraan dalam rumah tangga akan terjadi. Bagi perempuan yang kena dampak kekerasan ini bisa bangkit kembali, karena di Papua perempuan merupakan tulang punggung ekonomi keluarga,”jelasnya.

Ia menuturkan, Untuk mengatasi problem keuangan keluarga perempuan dengan sabar mengambil, meramu dan mengelola apa yang tersedianya alam untuk berlagsung kehidupan seorang perempuan di tanah Papua. Sebagai pejuang ekonomi keluarga tentu saja apapun yang akan diusahakn asalkan itu memenuhi dapur keluarga tetap menyala untuk keberlangsungan hidup anak-anaknya, maka sudah seyogyanya kita memberikan ruang untuk mengaktualisasikan diri dengan cara dan karyanya sebagai eksistensi hidupnya adalah salah satu cara melindungi perempuan dan anak di tanah Papua,”tutur Annike.

Apa yang kita saksikan hari ini bukanlah suatu yang penting, namun bagi orang yang memiliki perfektif pemberdayaan adalah pameranaan, pameran kerajinan perempuan pengintas adalah pameran perempuan dan korban kekerasan yang berusaha bangkit kembali lewat usaha ketrampilan ekonomi keluarga sesuatu yang sangat penting untuk dilakukan. Mengingat konsep pemberdayaan adalah konsep yang mampu memberikan ruang dan wacana untuk berkarya dengan potensi yang dimiliknya, untuk hidup yang lebih baik sesuai dengan Visi Papua Bangkit Mandiri dan Sejahtera yang Berkadilan.

Dalam memperkenalkan dan melestarikan hasil karya Orang Asli Papua, Pemerintah telah mengeluakan beberapa bukti terkait berbasis nomor 18 tahun 2000 tentang pereonomian berbasis kerakyatan yang sekarang dalam proses finishing. Pemerintah juga telah mengeluarkan instruksi Gubernur nomor 3 tahun 2014 tentang gerakan melestraikan budaya Papua dan pangan lokal. Regulasi-regulasi ini adalah wujud nyata komitmen Pemerintah menterjemahkan amanah Undang-Undang Otsus, untuk melestarikan, mendorong, memfasilitasi semua usaha untuk keberlangsungan hidup perempuan di tanah Papua.
Pameran hasil kerajinan tangan perempuan pengintas bukan hanya memperkenalkan secara spesifik hasil kerajina perempuan Papua melainkan titipan mengantar karakter ekonomi perempuan dari tradisional modern untuk mampu berkompeten dengan saudara-saudara kita dari seluruh nusantara. Hasil kerajina tangan perempuan-perempuan Papua ini menjadi pertanda bahwa siapa perempuan Papua “ kalau kita bicara tentang noken, berarti kita berbicara siapa perempuan Papua”.
Harap Annike, Pada moment yang berharga ini saya harapkan Ibu-Ibu atau mama-mama, agar terus berkarya dan mempertahankan eksistensi hidup anda, hidup keluarga, hidup komunitas, dan lebih dari itu mengangkat hak dan martabat para perempuan Papua secara keseluruhan. Berjuanglah dengan semangat untuk menghasilkan karya dengan tang yang sudah diberikan oleh Tuhan. Semua pihak yang telah terliabat dalam menyukseskan kegiatan ini saya harapkan apa yang telah dibuat bagi mereka tidak hanya sampai disini tetapi terus menopang, mendampingi, sehingga di waktu yang akan datang agar tetap lebih baik lagi. Marilah kita menghargai hasil kerajinan ini dengan membeli dan memperkenalkan pada orang lain jadikan hasil karya sebagai kebanggaan di tanah Papua,”pungkasnya.

Sekedar diketahui, Perempuan merupakan kelompok masyarakat yang rentan terhadap diskriminasi dan marginalisasi dari semua dampak kebijakan pembangunan, dan penolakan hidup terhadap komunitas kultur. Maka perempuan miskin sudah dipastikan anakpun ikut terpuruk, sudah dipastikan rentan terhadap tindak kekerasan, penelantaran keluarga, penyakit kronis, jaringan prostitusi dan narkoba.
Salah satu ketimpangan pembangunan yang sulit diselesaikan yang diputuskan rantainya adalah kemiskinan. Salah satunya adalah angka kemiskinan perempuan yang berimplikasi terhadap rendahnya pendidikan, pengetahuan perempuan serta kurangnya informasi, sedangkan kurangnya pelayanan kesehatan, lemahnya akses modal pasar yang pada akhirnya hanya makin memperburuk harapan hidup perempuan. Oleh karenanya berbagai pihak dikaji secara maksimal melakukan upaya untuk mencari jalan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan di baerbagai bidang kehidupan, termasuknya adalah kemandirian dan kemampuan secara ekonomi.(Celia)