Lanjut ke konten

Perpanjang Moratorium Sawit, lindungi Hutan Papua yang tersisa

Jayapura (KPN)-Menyikapi berbagai persoalan terkait perkebunan sawit di Tanah Papua serta masa berlaku Inpres Moratorium Sawit yang akan segera berakhir pada 19 september nanti, Charles Toto, Jungle Chef Papua memberikan pendapatnya.

“ Hutan adalah Pasar bagi Orang Papua, untuk mendapatkan segala sesuatu dari situ. Dan saya pikir hutan itu bukan hanya orang Papua, seluruh orang di dunia butuh hutan termasuk yang ada di Indonesia. Jadi perpanjangan moratorium adalah bagian dari upaya kita untuk menyelamatkan kehidupan kita sendiri,” ungkap Charles.

Lebih jauh dijelaskan Charles Toto bahwa Hutan adalah sumber pangan dan obat herbal bagi masyarakat Papua, dengan demikian sangat penting memperpanjang moratorium sawit. Pemerintah Daerah di Papua juga diharapkan akan membuat peraturan daerah untuk menjaga dan melindungi hutan Papua.

“Dengan begitu juga kita melestarikan apa yang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari masyarakat adat itu sendiri, baik yang ada di kota maupun yang masih ada di wilayah terpencil di Papua. Kami berharap dengan moratorium ini, pengembangan pertanian monokultur seperti sawit, sawah dan lainnya akan terbatasi,” jelas Charles.

Saat diwawancarai (31/08/2021) Charles Toto menerangkan bahwa untuk mendorong perpanjangan Moratorium Sawit, ia bersama berbagai pihak tengah membuat petisi.

“ Sekarang dukungannya mencapai 298 ribu lebih untuk mencapai angka 300 ribu orang yang mendukung itu. Kami berharap dengan petisi ini juga akan menyelamatkan hutan sagu yang ada di Papua yang pada tahun 2014 terdata sekitar 4,9 juta hektar,” terang Charles.

Charles Toto

Melindungi dan melestarikan hutan sagu sangat penting bagi masyarakat Papua karena sagu adalah 1 tanaman dengan 4 manfaat bagi kehidupan, yaitu sandang, pangan, papan dan ekosistem. Sebagai sandang, sejak dahulu masyarakat di wilayah selatan menggunakan daun sagu sebagai bahan untuk membuat pakaian. Sebagai Papan, daun sagu bisa dijadikan bahan untuk membuat atap maupun lantai rumah. Sebagai pangan, sagu merupakan sumber protein nabati dan karbohidrat yang rendah gluten bagi masyarakat. Sedangkan sebagai ekosistem, sagu juga menghasilkan sumber air bagi manusia, tanaman, hewan air dan sagu juga mampu menyaring racun yang turun ke sungai ataupun danau.

“ Saya pikir dari tahun 2014 hingga sekarang hampir sebagian sudah habis dibabat. Dengan jumlah hutan sagu yang tersisa, kami berharap dengan petisi perpanjangan moratorium, kita dapat menjaga kelestariannya yang sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Papua,” pungkas Charles. (Sonya-KPN)

%d blogger menyukai ini: